05
Fri, Jun

(Foto: Istimewa).*

News
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

PANDEGLANG - Pandemi covid-19 yang melanda saat ini telah membawa dampak yang sangat besar terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat. Salah satunya sektor kesehatan dan pelayanan Keluarga Berencana (KB).

Penyebaran virus yang sangat cepat dan sulit untuk dideteksi, menyebabkan banyak Pasangan Usia Subur (PUS) yang ingin ber-KB menunda ke fasilitas kesehatan (faskes) karena khawatir tertular covid-19. Padahal, di masa pandemi ini kontrasepsi sangat dibutuhkan, seiring dengan meningkatnya intensitas kedekatan pasangan suami istri selama masa isolasi mandiri di rumah.

Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan tingkat putus pakai KB akan meningkat. Menyebabkan terjadi kehamilan tidak diinginkan (KTD), yang berujung pada fenomena baby boom atau ledakan kelahiran bayi di beberapa bulan ke depan.

Adde Rosi Khoerunnisa, selaku Ketua Pita Putih Indonesia (PPI) Provinsi Banten, saat sambutannya pada pelayanan KB Keliling, cegah putus pakai kontrasepsi perdana di kantor Kecamatan Cisata, Kabupaten Pandeglang. Kamis, (14/5). Kegiatan ini dirangkai dengan wawancara Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Cegah COVID-19 dan tunda hamil di masa Pandemi Covid-19.

Pelayanan KB Keliling ini dilaksanakan bekerja sama Perwakilan BKKBN Provinsi Banten, Pita Putih Indonesia Banten, serta DPC Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IPeKB) Kabupaten Pandeglang. Kegiatan pelayanan KB dipusatkan halaman Kantor Kercamatan Cisata, Kabupaten Pandeglang.

Dalam pelayanan tersebut berhasil terlayani sebanyak 115 akseptor. Terdiri dari implant KB sebanyak 18 akseptor, suntik 10 akseptor, pil KB 61 akseptor, dan kondom 26 akseptor.

Adde Rosi menuturkan, pelayanan KB Keliling ini sebagai upaya mendekatkan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak wabah covid-19. Di tengah pandemi seperti ini, banyak PUS ingin ber-KB namun ragu dan takut ke fasilitas kesehatan untuk memasang alat KB.

“Saya berharap melalui pelayanan KB Keliling ini, akan memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan KB, sehingga angka putus pakai KB dapat ditekan dan kasus kehamilan yang tidak diinginkan dapat dicegah,” ujar Adde Rosi.

Ia menambahkan, kegiatan pelayanan KB keliling akan rutin dilaksanakan. Tidak hanya di Kabupaten Pandeglang, tetapi juga akan dikembangkan hingga ke kabupaten/ kota lain di Provinsi Banten. Langkah inovatif ini diambil sebagai upaya jemput bola dalam mencegah terjadinya putus pakai KB selama masa pandemi covid-19.

Baca juga: Reses Dimasa Pandemi Covid-19, Adde Rosi: Saya Isi dengan Kegiatan Sosial

Selain itu, Adde Rosi selaku ketua Pita Putih Indonesia (PPI) Provinsi Banten juga ikut memberikan bantuan berupa Alat Pelindung Diri (APD) untuk para tenaga medis dan bidan yang bekerja selama kegiatan pelayanan KB keliling. Sementara bagi ibu-ibu yang hadir dalam kegiatan ini juga diberikan bantuan berupa berupa sembako.

Langkah ini diambil sebagai bentuk kepedulian kepada tenaga bidan yang merupakan garda terdepan pelayanan KB yang berhadapan langsung dengan masyarakat dan sangat mudah terpapar covid-19.

“Saya harap bantuain ini bias bermanfaat bagi para tenaga medis dan juga para bidan yang tengah melakukan pelayanan KB keliling selama pandemi virus corona,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Adde Rosi juga mengimbau agar PUS menunda kehamilan hingga wabah covid-19 berlalu. Imbauan ini bukan tanpa alasan. Karena ketika hamil tingkat kekebalan tubuh ibu menurun, sehingga sangat rentan perpapar penyakit. Selain itu, stres dan obat-obatan yang dikonsumsi ibu selama sakit dapat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan janin.

“Kehamilan yang tidak terencana, utamanya saat usia muda, akan memicu munculnya sejumlah risiko.Di antaranya bayi lahir stunting, keguguran, cacat bawaan hingga kematian ibu dan bayi. Ditambah keterbatasan sarana layanan kesehatan di masa pandemi covid-19” katanya.

Namun, lanjut Adde Rosi jika terlanjur hamil, ibu dianjurkan untuk tidak bepergian ke luar rumah selama pandemi covid-19, jika tidak ada keperluan mendesak. Meski begitu, pemeriksaan kehamilan tetap perlu dilakukan secara rutin untuk memantau kesehatan ibu hamil dan janin dengan tetap menerapkan social dan physical distancing. (*)